nostalgia
August 23rd, 2009 by ayulazutentang omong kosong
yang usang
tersudut
dan melapuk
tentang omong kosong
yang usang
tersudut
dan melapuk
Iseng saja masukin nama Papa ke mesin pencari google. Karena ini cuma keisengan, jangan geer ya Pa, lagian aku ga cuma masukin nama Papa tapi nama Mama juga, sayangnya Mama betul-betul tidak dikenal hahaha. Singkat cerita, aku mendapatkan sebuah artikel dari Radar Cirebon edisi 3 Februari 2009 (hahaha tanggal ultah Si Ganteng)..
Mantan anggota Panwaskab Indramayu tahun 2004, Fuzail Ayad Syahbana, juga merasa ikut prihatin dengan apa yang terjadi di panwaslu saat ini. Menurutnya, konflik intern yang terjadi akibat tidak adanya kebersamaan diantara aggotanya. Sebab kalau masing-masing tetap mengedepankan egonya, maka sangat sulit untuk bisa bekerjasama dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
“Mestinya, dalam satu lembaga, apalagi lembaga seperti panwaslu, harus ada kebersamaan meskipun masing-masing mungkin sudah memiliki job description. Diantara anggota yang ada harus bisa saling melengkapi kelebihan atau kekurangan yang ada.”
Jago banget Pa, ngomong soal kebersamaan :p mana bukti kebersamaanmu? hehe piss…
_ayu yang semakin liar di saat seharusnya menulis artikel. tulis artikel, ayu… TULIS!!!!_
Sudah lama rupanya blog ini tak kusapa. Berhubung sekarang lagi agak-agak nganggur. Berhubung belum mood bikin artikel tentang liputan semalam (daripada artikelku dibilang kurang mendalam lagi oleh bos yudha hehehe). Maka kuputuskan menulis di sini. Ruang di mana aku bebas bereksplorasi. Bebas sebebas-bebasnya. Sekali-kali berbuat sebebas-bebasnya (asal ga telanjang di jalan raya hehehe betewe PSK di Blitar mengancam mau unjuk rasa di jalan raya dengan bertelanjang ria loh kalau lokalisasi ditutup wakakak… ada-ada saja, Indonesia, oh Indonesia….) menurutku merupakan suplemen yang sangat baik. Tepat disebut suplemen karena cukup dikonsumsi dalam jumlah sedikit. Buat apa suplemen banyak-banyak? Buat apa sering-sering berbuat sebebas-bebasnya? Hmmm ini pilihan sih. Nah aku memilih nggak sering-sering berbuat bebas, takut bablas hehehe. Mungkin bukan soal takut bablas. Soal yang sebenarnya, aku masih merasa terlalu muda. Terlalu dini untuk memutuskan berbuat kebebasan macam apa (so, kalo nikah sekarang disebut nikah dini dong? hehehe). Terlalu rapuh utuk kemudian jatuh sejatuh-jatuhnya. Terlalu ringkih walau tak hendak merintih. Terlalu takut walau menolak disebut pengecut. Maka mentok-mentok cuma bisa teriak, “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaargh…”. Teriaknya pun mesti ke air terjun supaya terjadi persaingan suara hahaha. Jadi kalau sekarang mah cukup teriak dalam hati saja hihihi.
kerinduan macam mana boleh kunyanyikan kecuali puisimu…
_ditulis setidak jelas-tidak jelasnya dalam kondisi yang sungguh-sungguh tidak jelas oleh manusia yang tidak (atau belum) mengenali dirinya dengan jelas_
04.00 am: huaaaaa senangnya barca menang, jarang2 jagoin tim terus menang :),,,, apalagi thierry masih selucu dulu :p lama kali ga liat bung henry ini
ke kamer ah,,, lanjutin belajar dafi….
06.58 am: loh gw tidur? sekarang jam brp? loh udah siang ya….. duh, kok bingung mau ngapain… bikin roti selai cokelat kacang ah, laper ![]()
setelah membuat roti selai: tunggu, ada yg aneh kayanya… huaaaaaa, gw kan ujian jam 7 pagi….
lambungku sayang
berhentilah mengerang
karena bercangkir-cangkir kopi telah jauh kutendang
bebas….. lepas…. bahagia…. mudah-mudahan besok cerah di Indramayu,,,, kangen terik matahari….
Telah letih langkahku
Dan terasa berat …
Cukup banyak kesalahan
Kubuat …
Di mimpiku
Ku dengar bunyi suara
Yang memanggilku pulang
Ke dalam hatimu
Karna hanyalah hatimu
Rumah terindah…..
Ku kan pulang
Tunggu aku di depan pintumu
Cintamu padaku tuntun jalanku…
Telah letih langkahku
Dan terasa berat
Ku kan pulang ke hatimu
Rumah terindah
Ku pulang ke hatimu
Rumah terindah….
_pas banget untuk rumah terindahku, “telah letih langkahku dan terasa berat, tunggu aku di depan pintumu”_
seperti waktu kita kecil. berkumpul di pinggir jalan malam hari saat mati lampu tanpa pernah membuat janji. hanya demi cahaya bintang yang menjadi begitu terasa berharga. dan hei, cahaya bintang punya warna bahagia sendiri. bukan warna yang tercipta dari bohlam di kamar yang menemani kita belajar. warna yang satu ini mengajak kita bermain, dan siapa tau ada juga pelajaran yang tertuang. seperti waktu kita teramat kecil. tau harus berbuat apa ketika menyadari malam ini purnama datang menyapa desa kecil tanpa lampu. inilah saat menikmati permainan-permainan kita di bawah cahaya purnama. inilah saat kita bercengkerama. bercerita. dan sesekali diam menikmati.
langit mulai gelap. lampu-lampu di pinggir jalan mulai menyala. abang penjual martabak mulai sibuk. bintang-bintang mulai terlihat. bintang. terang di antara gelap. saya suka. bintang yang terang di antara langit dengan kegelapan yang pekat. seperti berpesan: tenang, langit yang gelap pekat pun masih punya aku, akan selalu ada titik terang di antara gelap, dan dingin pun menjadi sebulir hangat saat cahayaku menjumpai sorot matamu. selalu ada. harapan.