Archive for September, 2008

Menjadi Juara

Monday, September 29th, 2008

Beberapa minggu yang lalu saya mempromosikan lagu gubahan Dee yang berjudul Malaikat Juga Tahu kepada seorang teman laki-laki. Sekitar dua minggu kemudian di sela-sela kuliah Kimia Medisinal saya bertanya pada teman itu, “Udah denger lagunya? Gimana? Keren kan?” “Gue nggak terlalu suka. Agak kecewa karena ternyata nggak sepuitis bayangan gue, malah cenderung blak-blakan nggak sih Yu?” Saya mengangguk-anggukan kepala, memang lagunya agak cenderung blak-blakan juga menurut saya. Sementara itu saya agak geli karena teman saya kecewa lagunya kurang puitis. Sedang tergila-gila hal-hal puitis rupanya Mas yang satu ini.

Terlepas dari puitis atau tidaknya lirik lagu tersebut -yang menurut saya pilihan katanya ‘pas’ tanpa perlu label puitis- ia sangat manusiawi, ini menurut kacamata saya. Belakangan ini saya memang sedang senang-senangnya mengobservasi ketertarikan sutu spesies bernama manusia pada konsep kalah-menang. Latar belakangnya antara lain pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain yang berkesempatan saya rekam sebagai pelajaran hidup. Kita, manusia, sangat tertarik menjadi pemenang. Simak baris terakhir lirik Malaikat Juga Tahu, “Malaikat juga tahu.. Aku kan jadi juaranya.” Kita menjadikan segala aspek yang terangkum dalam kehidupan di bumi ini arena pertandingan yang memberi kita kesempatan menjadi juara. Kebanyakan manusia selalu ingin menang atas manusia lainya. Pengalaman berpuasa memberi saya pemahaman berbeda tapi tetap berpijak pada konsep kalah-menang. Seringkali saya bertanya-tanya kenapa manusia begitu tertarik untuk mengalahkan manusia lainnya? Pertanyaan ini sukses membuat saya terdiam beberapa saat. Kenapa? Kenapa saya seringkali mengukuhkan diri bahwa saya yang benar dan bukan orang lain? Kenapa saya selalu ingin memiliki apa yang saya suka dan tidak suka melihat manusia lain yang memilikinya? kenapa saya selalu membiarkan sebuah konsep bahwa diri saya lebih baik dari orang lain bercokol dalam alam pikiran saya? Kenapa saya selalu ingin memamerkan pada manusia lain, “Lihat, Aku yang jadi juaranya.”?  Mungkin karena memang manusia dilahirkan dengan keinginan menjadi juara dan yang membedakan atau menyamakan manusia-manusia itu adalah pemahaman. Mau jadi juara apa (baca: macam apa)? Mau jadi juara atas siapa? Dari berpuasa, saya meyakini sebuah konsep kejuaraan yang bagi saya jauh lebih berarti daripada menjadi juara atas manusia lain. Mungkin hal ini dapat berbeda bagi setiap orang, tetapi saya sendiri tidak pernah merasa benar-benar bahagia hanya karena merasa telah mengalahkan manusia lain. Di dalam konsep kejuaraan berpuasa, saya adalah promotor yang menentukan kemenangan nurani atas ego dan nafsu. Ketiganya ada dalam diri saya. Ketiganya saya cintai dan sekarang ini berusaha saya pelihara dalam diri pada kadar yang tepat.

Kadang terlintas sebuah khayal di saat melihat carut marut dunia. Alangkah indahnya sebuah dunia yang 10 menit saja berpuasa. Tidak ada perebutan kebahagiaan antara manusia satu dengan manusia lainnya. Manusia berbagi kekuasaan, bukan berebut. Cinta dibiarkan tumbuh alami, bukan diperjuangkan di atas keinginan memiliki. Tetapi inilah wajah dunia kita saat ini, dunia di mana sekelompok manusia berebut mahkota yang mengklaim dirinya menjadi juara atas manusia lainnya dan sementara itu membiarkan nurani menyerah kalah pada kendali ego dan nafsu.

Tetapi dunia berpuasa itu masih memperlihatkan keberadaannya di tengah dominasi manusia-manusia yang berebut kebahagiaan. Ia masih hidup di dalam keanekaragaman pemahaman.

Di Atas Hijau Di Bawah Naungan Biru

Wednesday, September 17th, 2008

Aku menjejaki setiap rumput
merasakan basah yang melekat
menghirup wangi tanah yang menguap

Aku menginjak batu
menengadah menuju biru
matamu yang kutuju

Ketika Kita Melebur

Wednesday, September 17th, 2008

Mengendalikan rasa? Kali ini saya hanya ingin melebur dalam rasa. Hidup tak pernah menjadi terlalu usang, masa dan rasa selalu lahir kembali. Kali ini saya memilih untuk melebur. Mengapa? Karena memang sudah waktunya. Saya tidak menemukan alasan lain kecuali bahwa saya bahagia menjalani peleburan ini. Dalam pandangan saya, setiap detik dalam hidup adalah makna. Makna yang terungkap detik ini dapat sangat berbeda dengan detik yang lebih dulu lahir tetapi masing-masing dari keduanya adalah sebuah keutuhan. Ia ada tanpa harus meniadakan lawannya. Makna itu tetap ada bersama penyangga yang tercipta hanya untuknya, tanpa perlu pembenaran dari jiwa yang merasa. Jiwa yang merasa itu kini telah merubah warna lensa, membawa rasa yang berbeda. Ia sempat mengira ini adalah perubahan rasa. Sampai suatu ketika ia merasa bahwa setiap rasa adalah keutuhan dan setiap masa menjadi penyangganya. Ia tak lagi bermaksud menghapus apapun yang tercipta dari detik yang lebih dulu lahir tanpa menyesali setiap makna yang terlanjur ia hapus tanpa pernah benar-benar terhapus. Ia tak lagi berkeinginan kembali pada suatu detik pada suatu dunia yang telah dilaluinya dan membuat dunia itu berubah makna. Ia hanya perlu menjalani dunianya saat ini, merangkai keutuhan detik ini sambil sesekali berdebar menunggu keindahan lain yang esok menjumpai. Mungkin memang esok tak selalu indah. Mungkin tarian detik ini membawa penyesalan pada detik berikutnya. Ia merasa hanya perlu menikmati setiap konsekwensi.

_suatu sore bersama sebuah rasa yang belum diberi nama dan mungkin tak memerlukan nama untuk mengada_

Sayap Kecil Menggapai Matahari

Tuesday, September 16th, 2008

Pelan kunikmati sayap yang tumbuh
Pelan kubelajar mengepakkannya
Pelan kupersembahkan tarian
dengan sayap kecil
yang belum lagi dapat membawaku terbang jauh
namun akan terus tumbuh
Pelan
tetapi percayalah ia terus tumbuh

Nantikan sayapku
yang sesaat lagi menggapaimu
dalam langit impian

Nantikan
aku

_teruntuk matahariku yang bergulir pelan_