Archive for June, 2009

Iseng Saja…

Wednesday, June 24th, 2009

Iseng saja masukin nama Papa ke mesin pencari google. Karena ini cuma keisengan, jangan geer ya Pa, lagian aku ga cuma masukin nama Papa tapi nama Mama juga, sayangnya Mama betul-betul tidak dikenal hahaha. Singkat cerita, aku mendapatkan sebuah artikel dari Radar Cirebon edisi 3 Februari 2009 (hahaha tanggal ultah Si Ganteng)..

Mantan anggota Panwaskab Indramayu tahun 2004, Fuzail Ayad Syahbana, juga merasa ikut prihatin dengan apa yang terjadi di panwaslu saat ini. Menurutnya, konflik intern yang terjadi akibat tidak adanya kebersamaan diantara aggotanya. Sebab kalau masing-masing tetap mengedepankan egonya, maka sangat sulit untuk bisa bekerjasama dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

“Mestinya, dalam satu lembaga, apalagi lembaga seperti panwaslu, harus ada kebersamaan meskipun masing-masing mungkin sudah memiliki job description. Diantara anggota yang ada harus bisa saling melengkapi kelebihan atau kekurangan yang ada.”

Jago banget Pa, ngomong soal kebersamaan :p mana bukti kebersamaanmu? hehe piss…

_ayu yang semakin liar di saat seharusnya menulis artikel. tulis artikel, ayu… TULIS!!!!_

Catatan Ketika Pagi Menuju Siang

Wednesday, June 24th, 2009

Sudah lama rupanya blog ini tak kusapa. Berhubung sekarang lagi agak-agak nganggur. Berhubung belum mood bikin artikel tentang liputan semalam (daripada artikelku dibilang kurang mendalam lagi oleh bos yudha hehehe). Maka kuputuskan menulis di sini. Ruang di mana aku bebas bereksplorasi. Bebas sebebas-bebasnya. Sekali-kali berbuat sebebas-bebasnya (asal ga telanjang di jalan raya hehehe betewe PSK di Blitar mengancam mau unjuk rasa di jalan raya dengan bertelanjang ria loh kalau lokalisasi ditutup wakakak… ada-ada saja, Indonesia, oh Indonesia….) menurutku merupakan suplemen yang sangat baik. Tepat disebut suplemen karena cukup dikonsumsi dalam jumlah sedikit. Buat apa suplemen banyak-banyak? Buat apa sering-sering berbuat sebebas-bebasnya? Hmmm ini pilihan sih. Nah aku memilih nggak sering-sering berbuat bebas, takut bablas hehehe. Mungkin bukan soal takut bablas. Soal yang sebenarnya, aku masih merasa terlalu muda. Terlalu dini untuk memutuskan berbuat kebebasan macam apa (so, kalo nikah sekarang disebut nikah dini dong? hehehe). Terlalu rapuh utuk kemudian jatuh sejatuh-jatuhnya. Terlalu ringkih walau tak hendak merintih. Terlalu takut walau menolak disebut pengecut. Maka mentok-mentok cuma bisa teriak, “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaargh…”. Teriaknya pun mesti ke air terjun supaya terjadi persaingan suara hahaha. Jadi kalau sekarang mah cukup teriak dalam hati saja hihihi.

kerinduan macam mana boleh kunyanyikan kecuali puisimu…

_ditulis setidak jelas-tidak jelasnya dalam kondisi yang sungguh-sungguh tidak jelas oleh manusia yang tidak (atau belum) mengenali dirinya dengan jelas_