pulang (OST 9 naga)

April 6th, 2009 by ayulazu

Telah letih langkahku
Dan terasa berat …
Cukup banyak kesalahan
Kubuat …

Di mimpiku
Ku dengar bunyi suara
Yang memanggilku pulang
Ke dalam hatimu
Karna hanyalah hatimu
Rumah terindah…..

Ku kan pulang
Tunggu aku di depan pintumu
Cintamu padaku tuntun jalanku…

Telah letih langkahku
Dan terasa berat
Ku kan pulang ke hatimu
Rumah terindah
Ku pulang ke hatimu
Rumah terindah….

_pas banget untuk rumah terindahku, “telah letih langkahku dan terasa berat, tunggu aku di depan pintumu”_

seperti waktu kita kecil

March 6th, 2009 by ayulazu

seperti waktu kita kecil. berkumpul di pinggir jalan malam hari saat mati lampu tanpa pernah membuat janji. hanya demi cahaya bintang yang menjadi begitu terasa berharga. dan hei, cahaya bintang punya warna bahagia sendiri. bukan warna yang tercipta dari bohlam di kamar yang menemani kita belajar. warna yang satu ini mengajak kita bermain, dan siapa tau ada juga pelajaran yang tertuang.  seperti waktu kita teramat kecil. tau harus berbuat apa ketika menyadari malam ini purnama datang menyapa desa kecil tanpa lampu. inilah saat menikmati permainan-permainan kita di bawah cahaya purnama. inilah saat kita bercengkerama. bercerita. dan sesekali diam menikmati.

berharap

March 6th, 2009 by ayulazu

langit mulai gelap. lampu-lampu di pinggir jalan mulai menyala. abang penjual martabak mulai sibuk. bintang-bintang mulai terlihat. bintang. terang di antara gelap. saya suka. bintang yang terang di antara langit dengan kegelapan yang pekat. seperti berpesan: tenang, langit yang gelap pekat pun masih punya aku, akan selalu ada titik terang di antara gelap, dan dingin pun menjadi sebulir hangat saat cahayaku menjumpai sorot matamu. selalu ada. harapan.

dunia mungil reha

February 27th, 2009 by ayulazu

semalam saya dan reha menonton sebuah film di teve yang berkisah mengenai sepasang kakak beradik pemulung yang pintar yang mengalami begitu banyak duka dalam perjuangannya untuk bisa sekolah. 15 menit pertama. reha mulai gelisah. mengambil bantal. menenggelamkan kepalanya ke bantal. sampai ketika iklan pertama, “aku ga mau ah nonton ini, sedih…”. “ga papa re, reha boleh sedih sekali-kali. malah reha harus belajar sedih ngeliat orang lain sedih,” saya mengusap-usap kepala reha. “ih, aku nggak mau… pokoknya nggak mau…. kita pindah ke sctv aja….” “ya udah, sekarang pindah dulu, tapi kalo d sctv iklan kita pindahin lagi ke trans.” ritual menonton teve bersama malam ini penuh perjuangan untuk menyelesaikan tontonan sampai selesai yang sepertinya lumayan sulit untuk reha. menenggelamkan kepala dalam bantal saja tidak cukup. kami pun menonton sambil sesekali main “A-B-C-D ada berapa”. maksudnya supaya perhatian reha agak-agak teralih, supaya beban sedihnya nggak berat-berat banget. dan saya seperti menonton diri sendiri belasan tahun yang lalu. seperti menemukan bahwa saya kehilangan dunia mungil yang kini reha punya.

sesuatu yang luput

February 27th, 2009 by ayulazu

siang 26 februari 2008 adalah awal dari liburan saya kali ini yang saya namakan “menemukan sesuatu yang luput”. sebuah terminal. beberapa pandangan menimbulkan perasaan kurang nyaman, padahal saya sudah berpakaian lebih tertutup dari biasanya. rok panjang. kaos lengan panjang. jilbab dengan ukuran lebih panjang dari biasanya (tanpa diikat-ikat) yang benar-benar menutupi dada. bus yang saya cari masih kosong, saya duduk pada bangku kedua. bus baru berangkat satu jam lagi. saya mulai membuka-buka buku yang saya bawa, daun berserakan, entah untuk yang ke berapa kali. tunggu. ini kan perjalanan untu menemukan sesuatu yang luput. untuk menikmati setiap detik. setiap warna. menemukan detail yang tidak setiap saat bisa saya temukan. saya mulai mengalihkan pandangan dari buku. menatap ke luar jendela. dan menemukan mereka. seorang ibu pemilik kios yang duduk pada bangku panjang, bermain-main dengan balitanya yang tampan. anak yang lucu, saya ingin ikut tertawa pada setiap perjumpaan mata dengan setiap lekuk tawanya. dan balita itu menoleh. tertawa pada saya. begitu pula dengan ibunya yang terlihat ramah. kami bertiga tertawa bersama walau terhalang kaca jendela bus. bukan hanya kami bertiga. bapak pemilik kios di sebelah kios milik sang ibu pun ikut larut dalam tawa. kami bahkan tidak mengenal nama. tidak berbahasa lewat kata, bahkan sang balita mungkin belum begitu mengenal kata. kami seperti belajar menyesuaikan dengan bahasa sang balita. bahasa yang sudah lama terlupa.

nangis

February 25th, 2009 by ayulazu

pukul 9 pagi di 9012.
sahabat ayu: heh, kenapa lo?
ayu: hah, apa? (bingung, apanya yang kenapa? suka aneh deh temen gw….)
sahabat ayu: mata lo bengkak, keliatan banget lo abis nangis.
ayu: keliatan ya? (dengan muka yang polos)
sahabat ayu: iya kali, keliatan banget… orang bengkak banget… tadi gw ama  si _ _ _ _ (menyebut nama sahabat ayu lainnya) juga ngomongin, kenapa tuh si cantik..
ayu: (diem aja ah… ga ada yang perlu dijelasin juga…)
sahabat ayu: kenapa lo? gara-gara ngomongin yang kemaren ya?
ayu: enggaaaaaaaa
sahabat ayu: boong
ayu: yeee orang emang engga…. gw ga kenapanapa… hampir tiap malem juga gw kayak gini, cuma kebetulan malem ini volumenya lebih besar,,, gitu aja..

yap, cuma soal volume yang lebih besar dari biasanya. mata yang juga jadi lebih bengkak dari biasanya. selebihnya, saya sendiri bingung harus menjelaskan apa. mungkin saya akan memulainya dengan sebuah logika sederhana. mata bengkak dengan karakteristik seperti mata saya pagi ini berarti pemilik mata itu menangis semalaman? tepat. pintar sekali sahabatku. kita lanjutkan permainan logika ini. pertanyaan selanjutnya: menangis berarti sedih? ya atau tidak? kebanyakan orang berpikir “ya” bahkan tanpa terlebih dulu menghadirkan pertanyaan barusan. buat saya, jawabannya mungkin ya, mungkin tidak. yang jelas, faktanya adalah saya memang menangis hampir tiap malam (catat: bukan cuma malam tadi setelah obrolan kita kemarin). terkadang menangis adalah kebahagiaan itu sendiri. jadi saya betul-betul baik-baik saja kawan :), dan saya khawatir saya tidak akan baik-baik saja kalau terlalu lama tidak menangis. menangis seperti halnya senyum dan tawa, adalah gejala-gejala dari hidup manusia, bahkan menangis adalah gejala pertama dari kehidupan yang dipamerkan sebagian besar bayi yang lahir ke dunia, lalu kenapa setelah sang bayi membesar tangisannya menjadi hal yang patut dipertanyakan? hahaha pertanyaan yang bodoh ya. tentu saja karena menangis adalah gejala yang diperlihatkan manusia yang baru saja mengalami hal yang menyakitkan? jatuh? teriris pisau? tapi bukan hanya karena alasan itu kan manusia menangis?

udah dulu ah permainan logikanya, lagi suka ngomong dari hati ketimbang dari otak. sajian logika tadi cuma ingin berkata: sakit bukan satu-satunya alasan menangis. toh kalaupun karena sakit, saya ingin membiarkan semuanya terjadi dan berlalu saja. dan menikmati. termasuk perhatian kalian, saya menikmatinya. terimakasih :). terimakasih telah bertanya, adakah yang salah dengan ayu pagi ini? terimakasih telah jadi bagian dari kehidupan unik saya, saya menyayangi kalian :). dan soal obrolan kemarin, kalaupun saya harus menjelaskan sekali lagi, saya cuma ingin memastikan kalian percaya bahwa saya baik-baik saja. soal pertanyaan kalian tentang nama dari rasa, ya cuma segitu itu jawaban yang bisa saya berikan saat ini. sayang. selebihnya belum bisa saya namai. soal sedih? pasti ada rasa sedih waktu memutuskan menjauh dari orang yang saya sayang seperti saya menyayangi diri sendiri, rasanya ya kayak pisah dengan diri sendiri. saya memilih merasakan. merasakan, kawan :) karena kalau dipikir-pikir rasa kayak gini tuh anugerah loh:).

soal kebiasaan menangis saya memang sudah sering bikin orang sekeliling bingung, maafkan ya:). pernah semasih saya memakai seragam merah putih, suatu siang nenek saya kelabakan menemukan cucunya menangis sendirian di kamar.
nenek: kenapa ayu?
ayu: (aduh, ketauan… harus jawab apa?)
nenek: kenapa?
ayu: (memilih mengeluarkan jawaban bodoh) laper… sakit perut…
nenek: aduh ayu, laper kok nangis, kalo laper bilang… bentar ya dimasakin… jangan lagi-lagi loh kayak gitu… kalo laper bilang, jangan nangis sendirian.
loh? nenek gw percaya? yah, terpaksa mesti makan lagi padahal masih kenyang. habis harus jawab apa? waktu itu saya cuma sedang takut. takut karena begitu banyak yang saya tidak tahu, dan saya takut tertipu, saya takut salah jalan. siang itu saya cuma sedang bertanya-tanya. dulu saya ini apa?  saya berasal dari mana? bagaimana bisa ada di perut ibu lalu terlahir ke bumi. dan jawabannya adalah sebuah tanda tanya yang lebih besar. dan saya menangis. dan nenek saya masuk ke kamar. dan saya bingung harus menjelaskan apa.

nulis lagi :)

February 24th, 2009 by ayulazu

kapan ya terakhir nulis di sini? sudah lama sekali rasanya. kangen. kangen nulis. kangen merapikan rasa dan asa. akhir-akhir ini memang jarang ada waktu untuk ngobrol dengan diri sendiri. jarang ada waktu untuk memperhatikan hal-hal kecil dan kejarangan ini mau ga mau menimbulkan sedikit rasa kehilangan juga. bagaimana tidak, hidup saya dibangun dari hal-hal kecil, malah terkadang saya merasa hal-hal kecil adalah hidup itu sendiri. satu keanehan lagi. kadang hal-hal kecil memang punya banyak sisi aneh. bikin heran. makin diperhatiin makin aneh. waktu kecil dulu saya sering sekali kena omel mama gara-gara hobi yang ga biasa yang mama saya sebut melamun. di mata mama, hobi melamun betul-betul bukanlah hal yang baik, bukan hal yang bisa dibanggakan. ga lazim aja. “ini anak saya Ayu, hobinya melamun.” aneh kan? maka mama pun memilihkan hobi yang lebih bisa dibanggakan. membaca. setumpuk buku cerita pun hadir di kamar saya. kisah 25 nabi. putri tidur. cinderella. putri salju. donal bebek. wah, banyak deh. respon saya? tentu senang sekali :) tapi mama salah kalau berpikir hobi baru ini membuat saya meninggalkan hobi melamun. faktanya, hobi melamun dan daya khayal saya menjadi semakin berkembang, thanks to mama :) hal-hal yang saya lamunkan jadi semakin luas berkat buku-buku itu. settingnya ga cuma indonesia. kadang arab. kadang eropa. yang dilamunin bukan cuma diri sendiri atau orang-orang sekeliling. sehabis baca kisah nabi yusuf, saya sibuk melamun mikirin kok akhirnya yusuf menikah dengan zulaikha ya? tapi saya paling suka melamun sambil merhatiin tembok. saya sering merasa urat-urat tembok itu membentuk wajah-wajah dengan karakter yang kuat sekali. wajah-wajah dengan karakter yang membuat saya menjalin cerita. hahaha. hidup ini aneh ya?

Jatuh

December 2nd, 2008 by ayulazu

Waktu-waktu yang saya lalui belakangan ini membuka dimensi baru akan penghayatan saya tentang hidup. Ternyata terlalu banyak yang tak dapat diduga, bahkan sesuatu bernama rasa yang konon bercokol sebagai bagian dari diri sayapun terlalu angkuh untuk berbagi rahasia akan kemungkinan yang dapat terjadi pada dirinya. Dan datanglah hari itu, saat sebuah gambar di dunia maya dapat mengembalikan rasa yang pernah ada 3 tahun silam. Bahkan tidak terasa sebagai sesuatu yang pergi lalu kembali. Segalanya sejelas melihat diri di depan kaca. Saya seolah tak pernah kemana-mana. Terlalu banyak yang tak dapat diterka. Kebahagiaan melihat sebuah gambar. Debar saat melihat sebuah nama. Parade waktu yang melintas bergantian di kepala. Pergi. Kembali. Pergi. Dan kembali lagi. Kenyataan yang jauh dari rasionalitas dan saya ingin selalu menikmatinya. Melompat. Jatuh. Melompat lebih tinggi. Terjun untuk kemudian melompat lebih tinggi lagi. Ia membuat saya berkali-kali jatuh dan saya kembali dibuatnya jatuh. Ia membuat saya berputar-putar di udara. Ia membuat saya bahagia.

Kalah Menang

November 1st, 2008 by ayulazu

Ada yang bilang, kalau anda ingin mengetahui karakter seseorang yang sebenarnya, perhatikan sikap orang itu saat ia kalah, bukan saat ia menang. Mungkin hal ini berkaitan dengan kekacauan emosi saat seseorang menghadapi kondisi yang tidak sesuai ekspektasi. Analogi sederhananya saya rasakan saat ini. Pengertian kalah di atas dapat berarti cobaan. Seringkali saat kita mendapatkan cobaan, terjadi kekacauan emosi yang mempengaruhi pemikiran. Dan pada akhirnya, hasil yang diperoleh dari proses berpikir yang didominasi keadaan emosi yang kacau hanyalah pembenaran dari egoisme. Bagaimanapun, hidup selalu sejalan dengan pergantian musim. Ada menang dan kalah. Ada sedih dan bahagia. Setiap tahap adalah pembelajaran. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda hanya bagi ia yang mau belajar. Dan saya masih harus banyak belajar. Masih perlu menempa berlapis-lapis semangat. Masih harus mengikis egoisme. Masih harus membangun jiwa besar untuk mengakui kesalahan.

Hidup Ini Memilih

October 31st, 2008 by ayulazu

Tahun-tahun belakangan ini kata-kata itu semakin sering terdengar. Rupanya di usia kepala dua ini, teman-teman saya semakin mengakui kalau dalam hidup ini kita selalu memilih untuk mengambil suatu paket dan meninggalkan paket lainnya. Dan mestinya juga sadar, paket manapun yang diambil berisi konsekwensi yang tidak mau tau dengan ketidaksiapan. Kata-kata itu bukan cuma terngiang-ngiang belakangan ini, tetapi benar-benar menjelma lengkap dengan konsekwensinya. Seringkali memang hidup adalah tentang pilihan dan seringkali pilihan itu adalah konsekwensi dari keterbatasan. Keterbatasan waktu, keterbatasan energi, keterbatasan hati dan pikiran. Dan saya memilih untuk mensyukuri segalanya. Keterbatasan dan ketidakterbatasan. Saya memilih menikmati setiap rasa yang mampir termasuk rasa pusing campur sedih campur geli yang melanda sampai beberapa jam yang lalu. Memilih untuk tersenyum detik ini.